Hikmah

Mengenal Bapak Psikologi Islam Modern : Jejak Emas Prof. Dr. Malik Badri Dalam Menggugat Kepalsuan Psikologi Barat

Logo

Posted by: Adithya Fahmi Rifanka

22 May 2026 07:57 WIB โ€ข 623 view

Mengenal Bapak Psikologi Islam Modern : Jejak Emas Prof. Dr. Malik Badri Dalam Menggugat Kepalsuan Psikologi Barat
Foto: Image generated by Gemini AI

"Umat Muslim akan mengikuti jalan-jalan orang sebelum mereka, sehingga sekalipun mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya mereka akan mengikutinya."


Hadits di atas menjadi inspirasi bagi Profesor Dr. Malik Badri saat membedah fenomena ironis di dunia akademik Muslim. Melalui bukunya yang melegenda, The Dilemma of Muslim Psychologists (1978), ia mengkritik keras para psikolog Muslim yang mengekor secara buta pada teori-teori Barat yang tidak sejalan dengan tauhid, mengibaratkan mereka terjebak di dalam "lubang biawak".


Membongkar Kepalsuan Psikoanalisis Sigmund Freud


Kritik paling tajam Prof. Malik Badri diarahkan pada Psikoanalisis gagasan Sigmund Freud, yang kala itu dianggap sebagai kiblat psikologi modern. Freud mereduksi manusia layaknya binatang yang perilakunya hanya dikendalikan oleh insting seks (libido) dan agresi. Ia dengan berani menentang teori "tahapan oral" Freud yang mengklaim bayi menyusu pada ibunya demi kepuasan seksual.


Prof. Malik Badri tidak hanya mengkritik dengan dalil agama, tetapi juga dengan fakta sejarah dan sains. Ia merujuk pada temuan sejarah bahwa Freud merumuskan teori-teorinya saat mengalami kecanduan kokain berat. Lebih mengejutkan lagi, Prof. Malik memaparkan pemalsuan rekam medis terbesar dalam sejarah psikologi Barat:


1. Mitos Anna O.

Kasus histeria "Anna O" yang diklaim berhasil disembuhkan Freud lewat psikoanalisis ternyata palsu. Penelusuran sejarawan medis di sebuah sanatorium di Swiss membuktikan bahwa Anna menderita TBC (penyakit organik) akibat merawat ayahnya yang sakit, bukan gangguan psikologis.


2. Mitos The Wolf Man

Pria Rusia yang dijadikan dasar teori "Oedipal Kompleks" oleh Freud karena diklaim melihat orang tuanya berhubungan badan saat kecil, di masa tuanya membantah keras klaim tersebut. Pria itu berasal dari keluarga bangsawan yang sejak bayi dilarang tidur bersama orang tuanya dan hanya dirawat oleh pengasuh di kamar terpisah.

Meski kepalsuan ini telah terbukti, Prof. Malik menyayangkan banyak universitas, termasuk di dunia Arab, yang masih mengajarkan teori Freud seolah-olah itu adalah kebenaran absolut yang mengalahkan agama.


Menggali Khazanah Islam dan Mengembangkan Terapi Perilaku


Menyadari kelemahan Psikoanalisis, Prof. Malik beralih mendalami Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dan terapi perilaku. Ia belajar langsung di Inggris dan berhasil menciptakan modifikasi teknik klinis baru dalam metode desensitisasi sistematis untuk mengobati fobia dan kecemasan, sebuah kontribusi yang diakui dan dikutip dalam berbagai literatur psikologi medis Barat.


Namun, pencapaian terbesarnya bukanlah sekadar menjadi ahli terapi Barat. Saat menggali khazanah Islam, ia menemukan naskah kuno berusia 12 abad karya ilmuwan jenius Muslim, Abu Zayd Al-Balkhi. Prof. Malik menerjemahkan dan menganalisis naskah tersebut, lalu membuktikan kepada dunia bahwa para ulama Islam telah mempraktikkan teknik CBT ratusan tahun sebelum psikolog Barat modern menemukannya. Fakta ini membuat para psikiater Eropa terperangah, hingga karya tersebut diterjemahkan ke bahasa Norwegia dan mengubah cara pandang Barat terhadap sejarah psikologi.


Mewariskan Paradigma Holistik: IAIP dan Rencana Ilahi


Merasa bahwa gerakan "islamisasi psikologi" yang menambal-sulam teori Barat sudah tidak lagi relevan, Prof. Malik Badri bersama tokoh seperti Prof. Rashid Skinner dan Dr. Abdallah mendirikan Himpunan Psikologi Islam Internasional (IAIP) pada tahun 2017 di Amerika Serikat. Tujuannya bukan lagi sekadar menyesuaikan, melainkan membangun paradigma keilmuan yang secara holistik utuh bersumber dari pandangan alam (worldview) Islam.


Di penghujung usianya, Prof. Malik menyadari bahwa seluruh pencapaian ini adalah murni skenario Allah SWT. Pada tahun 1991, usai pensiun di usia 60 tahun, ia sebenarnya ingin menghabiskan masa tuanya di desa kelahirannya di Rufa'a dengan membangun cabang Universitas Khartoum. Proposalnya sudah disetujui pemerintah Sudan. Namun, tiba-tiba seorang tokoh bernama Habib Abu Sulaiman mengintervensi menteri dan membatalkan proyek itu dengan satu alasan telak: "Siapa pun bisa memulai universitas di desanya, tetapi tidak ada seorang pun di dunia ini yang bisa mengajarkan psikologi Islam seperti Badri."


Pembatalan itulah yang pada akhirnya menerbangkan Prof. Malik Badri ke Malaysia (IIUM dan ISTAC), tempat di mana pengaruh pemikirannya mekar ke seluruh dunia Islam, termasuk Indonesia. Seperti bidak di atas papan catur, sang pionir menyadari bahwa ia hanya bergerak mengikuti kehendak-Nya. Warisan emasnya kini menanti untuk dilanjutkan oleh generasi Muslim masa depan.

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Moslemtoday.com, Klik : WA Grup & Telegram Channel

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!