Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI Mochamad Irfan Yusuf, mengatakan kondisi kesehatan sejak saat ini harus dijaga untuk haji 2027.
Persiapan kesehatan dan kebugaran fisik sejak dini menjadi hal penting bagi calon jemaah haji untuk memastikan kesiapan menjalankan ibadah di Tanah Suci. Hal ini menjadi perhatian Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI Mochamad Irfan Yusuf, mengingat kondisi kesehatan masih menjadi salah satu faktor penyebab calon jemaah gagal berangkat.
"Ada 345 calon jemaah haji yang sudah berada di embarkasi, tetapi tidak bisa berangkat. Tidak bisa diloloskan oleh Balai Kekarantinaan Kesehatan karena dinilai tidak layak kesehatannya," ungkap Menhaj saat membuka Expo UMKM dan Ekosistem Haji & Umrah Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan kegiatan manasik haji di Masjid Agung Sudirman, Denpasar, Bali, Sabtu 10 Oktober 2026 seperti dikutip dalam laman resmi kemenhaj.
Menhaj menjelaskan bahwa pada penyelenggaraan sebelumnya, sejumlah calon jemaah tidak dapat melunasi biaya haji akibat terkendala persyaratan kesehatan. Bahkan, terdapat jemaah yang sebelumnya dinyatakan memenuhi persyaratan, tetapi kembali dinyatakan tidak layak berangkat saat pemeriksaan di embarkasi.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Menhaj mengimbau calon jemaah menjaga pola hidup sehat, rutin berolahraga, meningkatkan kebugaran, serta mempersiapkan fisik menghadapi suhu di Arab Saudi yang dapat mencapai lebih dari 40 derajat Celsius.
"Tetap jaga kesehatan. Belajar berolahraga, belajar berpanas-panas seperti sekarang ini. Mudah-mudahan setelah persiapan, nanti bulan April pertengahan kita sudah mulai memberangkatkan jemaah, dan mereka benar-benar siap secara fisik," ujarnya.
Selain itu, Menhaj juga menyampaikan bahwa Kemenhaj akan segera mengumumkan tahapan pelunasan biaya haji 2027. Sebelum pelunasan, calon jemaah harus menjalani pemeriksaan kesehatan sesuai ketentuan yang berlaku. Ia berharap seluruh jemaah, khususnya asal Bali, memanfaatkan waktu persiapan untuk menjaga kesehatan sekaligus memperdalam pemahaman ibadah.
Selain kesehatan, Menhaj juga mengatakan pentingnya pemahaman dan kemandirian jemaah. Ia meminta Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) memberikan pembinaan optimal agar calon jemaah memahami seluruh rangkaian ibadah, termasuk rukun dan wajib haji, larangan ihram, serta fikih kemudahan.
"Manasik ini bukan formalitas, tetapi sekolah pertama calon jemaah haji. Jemaah harus memahami rukun dan wajib haji, larangan ihram, Arafah, Muzdalifah, Mina, tawaf, dan sai,"ujarnya.
Menhaj menegaskan bahwa kemandirian bukan berarti jemaah harus menjalankan ibadah tanpa pendampingan, melainkan memiliki pemahaman yang cukup sehingga tidak selalu bergantung kepada pembimbing.
Ia berharap persiapan kesehatan dan penguatan manasik sejak dini dapat memastikan jemaah haji Indonesia siap secara fisik, mental, dan pemahaman ibadah, sehingga mampu menjalankan haji dengan lancar, sehat saat berangkat maupun kembali ke Tanah Air, serta memperoleh haji yang mabrur.