Sebanyak 73 santri dan santriwati Sekolah Hafizh Quran (SHQ) mengikuti Wisuda dan Haflah SHQ 1448 H yang digelar di Ballroom Nyi Ageng Serang, Jakarta, Kamis (16/7/2026). Para wisudawan berasal dari SHQ Tebet Jakarta, SHQ Zamrud Bekasi, SHQ Galaxy Bekasi, SHQ Ciputat, SHQ Bintaro, dan SHQ Bandung. SHQ merupakan unit pendidikan Al-Qurโan di bawah AQL Islamic Center.
Acara dihadiri pendiri sekaligus pembina SHQ Ustaz Bachtiar Nasir (UBN), Syekh Dr. Muhammad Al-Dasuqi Amin Muhammad Kahila, pakar tafsir dan ilmu Al-Qurโan dari Al-Azhar Mesir sekaligus Direktur Markaz Kahila li-Dirasati Qurโaniyyah, para orang tua santri, serta tamu undangan.
Dalam sambutannya, UBN menegaskan perjalanan SHQ selama 11 tahun dibangun dengan visi menghadirkan pendidikan tahfiz Al-Qurโan yang dapat diakses keluarga tanpa harus memondokkan anak sejak usia dini.
โSejak saya memulai membuat SHQ, ada satu visi besar. Banyak orang tua yang ingin punya anak hafizh Al-Qurโan, tetapi tidak ingin ke pesantren. Karena itu kami berusaha menghadirkan pendidikan Al-Qurโan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat,โ ujar UBN dalam keterangannya.
Menurutnya, berbagai dinamika dan ujian yang pernah dihadapi lembaga justru menjadi bukti bahwa kekuatan utama SHQ bukan semata pada pengelolanya, melainkan pada keberkahan Al-Qurโan itu sendiri.
โAl-Qurโan yang bekerja. Hari ini anak-anak kita telah dididik oleh Allah melalui Al-Qurโan. Al-Qurโan-lah sesungguhnya yang bekerja, walaupun ada sedikit kontribusi kami dan para guru,โ katanya.
UBN mengatakan wisuda bukan hanya seremoni, melainkan buah dari doa panjang para orang tua, guru, dan keluarga yang menginginkan lahirnya generasi Qurani berakhlak mulia.
Sementara itu, Syekh Dr. Muhammad Al-Dasuqi Amin Muhammad Kahila mengingatkan bahwa tujuan utama menghafal Al-Qurโan bukan hanya menjaga hafalan, tetapi juga mengamalkan kandungannya dalam kehidupan sehari-hari.
โPermasalahan utamanya bukanlah melupakan hafalan, tetapi melupakan untuk mengamalkan Al-Qurโan. Hakikat Al-Qurโan diturunkan adalah untuk dipahami lalu diamalkan,โ ujar ulama Al-Azhar tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah SAW adalah perintah membaca (Iqraโ), yang menjadi dasar pentingnya menuntut ilmu dan terus berinteraksi dengan Al-Qurโan sepanjang hayat.
Suasana haru mewarnai prosesi wisuda ketika sejumlah orang tua menyampaikan kesan dan pengalaman mereka mendampingi anak belajar di SHQ.
Wali santri asal Jakarta, Revi Sulistiorini, mengaku bersyukur kedua putrinya memperoleh pendidikan di SHQ. Putri sulungnya telah belajar selama 10 tahun sejak usia tiga tahun dan kini melanjutkan pendidikan di pesantren berasrama.
โSHQ bukan hanya mengajarkan hafalan Al-Qurโan, tetapi mengajarkan anak-anak mengamalkan Al-Qurโan dalam kehidupan sehari-hari. Itu yang saya lihat menjadi nilai lebih SHQ,โ ujarnya.
Menurut Revi, kebiasaan salat tepat waktu, kedisiplinan, serta adab yang ditanamkan kepada para santri menjadi pencapaian yang tidak kalah penting dibanding jumlah hafalan yang dimiliki.
Kesaksian serupa disampaikan Gufron Baehaki, ayahanda Haifa Fakhrani, santri SHQ Bandung penyandang Down syndrome. Ia mengaku sempat ragu ketika mendaftarkan putrinya hampir tujuh tahun lalu.
โAlhamdulillah, hari demi hari dan tahun demi tahun anak saya menjadi lebih santun, mandiri, dan mencintai Al-Qurโan. Saya bangga bukan karena kehebatan saya sebagai orang tua, tetapi karena bimbingan para ustaz dan ustazah di SHQ,โ katanya.
Ia berharap seluruh wisudawan tidak berhenti menghafal setelah menyelesaikan pendidikan di SHQ.
โKeberhasilan hari ini hanyalah awal. Mahkota kemuliaan yang sesungguhnya adalah ketika anak-anak mampu menjaga dan mengamalkan Al-Qurโan sepanjang hidupnya,โ ujar Gufron.
Wisuda dan Haflah SHQ 1448 H menjadi momentum apresiasi atas perjuangan para santri, guru, dan orang tua dalam membangun generasi penghafal Al-Qurโan yang tidak hanya kuat hafalan, tetapi juga menjadikan nilai-nilai Al-Qurโan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.*