Artikel

Mengenal Bapak Psikologi Islam Modern: Perjalanan Spiritual dan Intelektual Prof. Dr. Malik Badri (Bag. 1)

Logo

Posted by: Adithya Fahmi Rifanka

21 May 2026 15:50 WIB โ€ข 544 view

Mengenal Bapak Psikologi Islam Modern: Perjalanan Spiritual dan Intelektual Prof. Dr. Malik Badri (Bag. 1)
Foto: Image generated by Gemini AI

Di tengah hegemoni ilmu pengetahuan Barat yang kerap menafikan peran agama, muncul sosok raksasa intelektual Muslim yang berani melawan arus. Ia adalah Profesor Dr. Malik Badri, cendekiawan kelahiran Rufa'a, Sudan, 16 Februari 1932. Diakui secara global sebagai Bapak Psikologi Islam Modern, perjalanan hidupnya bukanlah sekadar rentetan gelar akademis bergengsi, melainkan sebuah epik pencarian jati diri, pertahanan akidah, dan dedikasi tanpa henti untuk mengembalikan psikologi ke pangkuan Islam.


Lahir dari Rahim Pendidikan yang Keras dan Visioner

๏ปฟ

Karakter pendidik Prof. Malik Badri tampaknya mengalir deras dari sang ayah. Pada tahun 1907, di saat masyarakat Sudan masih menentang keras pendidikan bagi kaum perempuan karena dianggap merusak karakter, ayah Malik Badri yang kala itu berusia sekitar 60 tahun justru mengambil langkah revolusioner. Ia mendirikan taman kanak-kanak khusus untuk cucu-cucu perempuannya yang diberi nama Ahfฤd (jamak dari hafid, berarti cucu).


Sekolah inilah yang menjadi kawah candradimuka pertama bagi Malik Badri. Pada usia 5 tahun, ia sudah diantar ke sekolah oleh sang ayah dengan menunggangi keledai putih. Menjadi murid termuda di sekolah yang dipimpin ayahnya sendiri memberinya kedisiplinan tingkat tinggiโ€”jika ia nakal di rumah, ia dihukum di sekolah; jika ia salah di sekolah, ia dipukul di rumah. Kedisiplinan inilah yang kelak menempanya menjadi ilmuwan tangguh di kancah global.


Guncangan Akidah di Beirut dan Titik Balik Spiritual


Langkah awal Prof. Malik Badri menuju islamisasi psikologi bermula dari krisis spiritual yang ia alami. Saat menerima beasiswa di American University di Beirut (AUB) pada tahun 1953, ia dihadapkan pada lingkungan kampus yang sangat sekuler dan bernuansa Amerikanisasi. Di sana, mahasiswa Muslim diwajibkan menghadiri kegiatan di gereja yang dihitung sebagai presensi kuliah. Lebih parah lagi, di ruang kelas filsafat, sejarah dan pemikiran Islam didistorsi. Ulama-ulama klasik seperti Ibnu Sina digambarkan telah terpengaruh filsafat Aristoteles hingga dianggap meyakini bahwa Tuhan tidak memedulikan rincian nasib manusia. Sejarah Islam pun hanya diajarkan sebatas narasi peperangan dan konflik berdarah.


Kondisi ini membuat banyak mahasiswa Muslim kala itu menjadi sekuler atau bahkan ateis. Namun, bagi pemuda Malik Badri yang awalnya mengaku sebagai "Muslim awam", hal ini justru memantik api perlawanan. Ia mulai berdebat vokal dengan dosen-dosennya dan melahap buku-buku di perpustakaan, termasuk membaca Al-Qur'an secara utuh yang membuatnya menangis tersedu-sedu saat meresapi indahnya Surah Ar-Rahman.


Titik balik terbesarnya terjadi di suatu sore ketika ia membaca buku Shubuhat Hawla al-Islam (Islam: The Misunderstood Religion) karya cendekiawan Muhammad Qutub. Buku itu menggetarkan jiwanya dan memberinya peta jalan untuk merintis gagasan besar: Islamisasi Psikologi. Sejak saat itu, di setiap tugas kuliahnya, ia selalu memasukkan perspektif Islam. Saat diminta menulis tentang perkembangan anak, ia menyusunnya murni dari pandangan Islam.


Menaklukkan Dunia Akademik Barat


Alih-alih tenggelam dalam sistem Barat, Prof. Malik Badri justru "menaklukkannya" untuk mengambil hikmah. Ia menyelesaikan gelar sarjana dan magister di AUB, lalu meraih gelar PhD dari University of Leicester di Inggris pada 1961 dalam waktu singkatโ€”hanya 2 tahun. Masa-masa doktoralnya dilalui dengan penuh keprihatinan finansial. Dengan uang saku yang sangat terbatas dari beasiswa British Council, ia harus mengendarai skuter Vespa menembus dingin dari Leicester ke Leeds setiap dua minggu untuk menemui supervisornya, bahkan terpaksa menumpang shalat zuhur di gereja-gereja pinggir jalan.


Namun, kerja keras itu terbayar lunas. Ia meraih ijazah pascasarjana psikologi klinis dari Universitas London (1966) dan menjadi pemegang lisensi praktik bergengsi C.Psychol dari British Psychological Society. Karier akademisnya kemudian membentang melintasi berbagai benua; dari Yordania, Sudan, Arab Saudi, Ethiopia, Malaysia (di IIUM dan ISTAC), Pakistan, hingga Turki.


Langkah awalnya telah membuktikan bahwa seorang Muslim tidak perlu melepaskan keimanannya untuk menjadi ilmuwan kelas dunia. Namun, tantangan terbesarnya belum usai: ia harus membongkar kepalsuan teori psikologi Barat yang selama ini diagungkan dunia, sebuah kisah perlawanan intelektual yang akan kita bahas pada Bagian Kedua.

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Moslemtoday.com, Klik : WA Grup & Telegram Channel

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!