Opini

Viralitas Keadilan dan Matinya Etika Negara

Logo

Posted by: Mohammad Suud

20 October 2026 21:48 WIB โ€ข 15 view

Viralitas Keadilan dan Matinya Etika Negara
Foto: Istimewa


VIRALITAS KEADILAN DAN MATINYA ETIKA NEGARA


Introduksi. Ada yang keliru dalam cara kita menunggu. Di awal Oktober lalu, sebuah putusan dibacakan di gedung Mahkamah. Di layar ponsel, angka-angka berlarian: 10 ribu mention di berita, 82 ribu mention di media sosial.ยน Orang menghitung seberapa ramai sebuah kebenaran diperbincangkan, bukan seberapa benar kebenaran dirayakan.

ADSPromosikan Video Profil Sekolah, Informasi PPDB, Yayasan, Lembaga, Usaha, Bisnis, Produk di Moslem Today TV Channel, KLIK DISINI

Di hari yang sama, seorang ibu di Tegal menunggu sepuluh tahun. Sepuluh tahun dia menahan luka, melapor, lalu dilupakan. Hingga suatu hari videonya pecah di lini masa. Baru setelah itu, pintu yang tertutup rapat terbuka sedikit. Judul beritanya jujur dan memilukan: ketika media sosial menjadi jalur terakhir berburu keadilan.ยฒ

Kita tidak lagi bertanya: apakah ini adil? Kita bertanya: apakah ini sudah cukup viral untuk dianggap adil?

Wajah yang Terlupakan. Ada yang aneh pada manusia Indonesia hari ini. Di media sosial ia paling lantang, di depan institusi ia paling lengang. Kita berteriak di tempat yang tidak punya telinga, dan berbisik di tempat yang seharusnya mendengar. Jika kita membayangkan Sokrates bertemu Levinas, mungkin Sokrates akan bertanya: kapan terakhir kali kita melihat manusia tanpa buru-buru menilainya? Dan Levinas akan menjawab lirih: saat kita lupa menilai, wajah itu justru memerintah.

Emmanuel Levinas pernah mengingatkan: ada sesuatu pada wajah orang lain yang tidak bisa kita kurung dalam definisi kita. Wajah itu datang dengan kerentanannya yang tak terhingga, dan diam-diam ia memerintah kita: jangan lukai aku.ยณ Sebelum kita sempat berargumen, wajah itu telah lebih dulu menagih tanggung jawab.

Lalu kapan kita berhenti melihat wajah? Kapan seorang ibu yang datang melapor tidak lagi dilihat sebagai wajah yang memanggil, melainkan sebagai berkas yang menunggu nomor antrean? Di situlah sesuatu dalam kemanusiaan kita bergeser. Kita tidak lagi mengakui seseorang karena ia manusia. Kita mengakuinya setelah ia menjadi tontonan. Kita mengubah manusia menjadi konten, dan baru setelah menjadi konten, ia boleh dianggap manusia.โด

Padahal dalam ingatan Islam yang paling tua, manusia dimuliakan tanpa syarat.โต Tanpa perlu menunggu disukai algoritma. Keadilan diperintahkan kepada orang beriman bukan karena kasusnya ramai, tapi justru karena sepi dan tak ada yang membela.โถ

Negara Pandai Menghitung. Lalu kita bertanya: sejak kapan negara menjadi tukang hitung? Negara hari ini sangat pandai menghitung. Ia tahu persis ada 799 titik api.โท Ia tahu indeks saham turun 5,2 persen.โธ Ia tahu ada 486 konten yang diturunkan dalam satu malam patroli siber di bulan Agustus.โน Semuanya ada angkanya. Rapi, tapi belum selesai.

Max Weber pernah membedakan dua cara manusia bertindak. Ada yang bertindak karena ia menghitung untung rugi, sebab akibat, alat dan tujuan. Ada yang bertindak karena ia percaya pada suatu nilai, bahkan jika nilai itu tidak menguntungkan.ยนโฐ Negara kita hari ini, mungkin, terlalu fasih pada cara yang pertama, hingga lupa cara yang kedua.

Ia tahu cara menghitung api, tapi lupa merasakan perihnya asap di dada anak-anak. Ia tahu cara menghitung pasar modal yang kehilangan triliunan karena kepercayaan yang pergi, tapi lupa mengapa kepercayaan itu pergi. Ketika semua hal diukur dengan berapa ramainya, berapa naiknya, berapa viralnya, maka yang hilang bukan data. Yang hilang adalah alasannya mengapa kita harus berbuat adil sejak awal.

Gedung Tanpa Keadilan. Jika diteruskan, pertanyaan ini menjadi lebih sunyi. Apakah institusi kita masih ada? Gedungnya masih ada. Seragamnya masih ada. Plangnya masih menyala di malam hari. Tapi Heidegger pernah berbisik tentang satu kelupaan yang paling berbahaya: bukan lupa menaruh kunci, tapi lupa akan makna dari rumah itu sendiri.ยนยน Kita sibuk mengurus apa yang tampak, apa yang bisa dihitung, apa yang bisa dipamerkan, hingga lupa mengapa rumah itu dibangun pada mulanya.

Itulah yang terjadi ketika keadilan harus viral dulu. Secara fisik, institusi masih berdiri. Secara etik, ia telah kosong. Ia tidak lagi menjadi tempat di mana keadilan bersemayam. Ia menjadi ruang tunggu yang hanya bergerak jika pintunya digedor oleh ribuan penonton.

Bukan orangnya yang mati. Bukan pula niat baiknya yang tidak ada. Yang perlahan mati adalah daya batinnya untuk mendengar bisikan yang tidak viral.

Kontrak Diingkari dengan Sopan. Di titik ini politik tidak bisa lagi ditutup-tutupi dengan kata stabilitas. Ada tiga luka politik yang saling berkaitan hari ini.

Pertama, kita sedang menyeleksi penderitaan. Hanya luka yang fotogenik yang mendapat perban. Yang tidak pandai merekam, yang tidak pandai menulis caption, yang suaranya pelan, dibiarkan menunggu. Padahal demo mahasiswa pada 20 Oktober di Tugu Tani dan Tugu Proklamasi bukan tentang suka atau tidak suka pada pemerintah. Ia adalah tanda bahwa kanal yang biasa telah buntu, sehingga orang harus kembali ke jalan.ยนยฒ

Kedua, kita terjebak dalam paradoks yang melukai diri sendiri. Di satu sisi rakyat diminta melapor lewat jalur formal, jangan viral. Di sisi lain, Komnas HAM mencatat Komdigi mengakui menurunkan 486 konten di akhir Agustus terkait demo, dengan alasan patroli siber dan dugaan pelanggaran hukum. Sebagian konten itu terkait dengan kematian seorang warga yang menjadi perhatian publik.ยนยณ Jadi rakyat diminta tidak berisik, tapi ketika ia berisik, suaranya dihapus dengan alasan ketertiban. Jika begitu, ke mana suara harus pergi?

Ketiga, pasar pun mulai kehilangan percaya. Ketika pada 19 Oktober IHSG anjlok hingga ke level 4.914, kehilangan ribuan poin sejak awal tahun karena ancaman perubahan klasifikasi MSCI dan keluarnya modal asing lebih dari seratus triliun, itu bukan sekadar angka ekonomi. Itu adalah bahasa lain dari kepercayaan yang retak.ยนโด Pasar yang selama ini menjadi cermin teknokrasi ikut berkata: ada sesuatu yang tidak beres pada cara kita mengelola kepercayaan.

Para pemikir kontrak sosial dulu membayangkan negara seperti sebuah perjanjian: rakyat menitipkan sebagian kebebasannya, agar negara menjaga hak-haknya yang paling dasar.ยนโต Jika hak itu baru diberikan setelah tangisnya menjadi tontonan, dan tontonannya pun kemudian diturunkan, maka perjanjian itu sedang diingkari dengan cara yang paling sopan.

Jalan Pulang Tak Dipetakan. Dan ketika perjanjian antar manusia sudah retak seperti itu, biasanya manusia kembali mencari ingatan tertuanya tentang apa artinya menepati janji. Ingatan itu dalam tradisi kita bernama Islam, bukan sebagai jawaban instan yang datang membetulkan, melainkan sebagai ingatan tentang nilai itu sendiri. Lalu Islam berkata apa? Bukan dengan menempelkan ayat di akhir tulisan seperti cap halal. Islam datang sebagai ingatan tentang nilai yang mesti dijunjung tinggi.

Jika No Viral No Justice berkata nilai ditentukan oleh keramaian, maka ingatan Islam berkata sebaliknya. Ada tiga ingatan yang perlu kita dudukkan kembali, bukan sebagai dalil di mimbar, tapi sebagai cara hidup.

Ingatan pertama dari Ibn Miskawayh. Ia menulis bahwa keadilan adalah sikap tengah yang menjaga jiwa tetap utuh. Bukan tengah yang berarti diam di tengah, melainkan tengah yang berarti tidak berlebihan dan tidak kekurangan.ยนโถ Keadilan yang hanya bergerak setelah viral adalah keadilan yang kekurangan, ia malas mencari. Keadilan yang hanya membela yang ramai adalah keadilan yang berlebihan, ia pilih kasih. Keadilan yang tengah adalah keadilan yang berjalan sendiri, bahkan ketika tidak ada kamera.

Ingatan kedua dari Al-Farabi. Ia membayangkan kota yang utama bukan karena temboknya tinggi, tapi karena pemimpinnya mencintai keadilan sebagai watak, bukan sebagai strategi pencitraan.ยนโท Pemimpin yang utama membenci kezaliman bahkan sebelum ada yang melapor, apalagi viral. Ia adil kepada dirinya sendiri, sebelum ia adil kepada orang lain. Keadilan baginya bukan prosedur, melainkan kerinduan batin.

Ingatan ketiga dari Al-Ghazali. Ia tidak membayangkan penjaga moral sebagai petugas yang duduk menunggu laporan di balik meja. Ia membayangkan muhtasib, sosok yang setiap pagi berjalan di pasar. Ia memeriksa timbangan yang curang, ia menyingkirkan dagangan yang busuk, ia membela pembeli yang tidak bersuara.ยนโธ Ia tidak menunggu pasar berteriak, ia datang karena ia tahu di pasar selalu ada yang dizalimi secara diam-diam. Hisbah dalam pengertian ini bukan razia, melainkan penjagaan yang preventif. Ia menjaga sebelum luka menjadi viral.

Jika dirangkum, ketiga ingatan ini mengajarkan satu pergeseran: dari keadilan yang ditentukan oleh terlihat atau tidak terlihat, menuju keadilan yang ditentukan oleh tanggung jawab. Negara tidak bergerak karena disetrum netizen. Negara bergerak karena memang untuk itulah ia ada.

Dulu Umar bin Khattab pernah menangis membayangkan seandainya ada seekor keledai terperosok karena jalan yang berlubang.ยนโน Tidak ada keledai yang viral. Tidak ada yang merekamnya. Tapi tangis Umar tetap jadi, karena tanggung jawab tidak butuh penonton.

Epifani. Maka di mana jalan pulang yang sejati? Tulisan ini tidak memberi peta jalan pulang yang lengkap dengan petunjuk arah. Ia hanya mengingatkan bahwa, mungkin, selama ini kita kenyang dengan remah-remah viral, dan mengira itu adalah keadilan.

Jalan pulang mungkin bukan dengan menambah satu aplikasi pengaduan baru. Jalan pulang mungkin adalah dengan mengembalikan keberanian untuk bertindak tanpa penonton. Mengembalikan hisbah sebagai kebiasaan berjalan di lorong-lorong sepi, bukan patroli untuk menghapus yang ramai. Mengembalikan keadilan sebagai watak yang mencintai yang tidak terlihat, bukan sebagai respons terhadap yang paling berisik.

Negara yang hidup bukanlah negara yang paling keras membalas teriakan. Negara yang hidup adalah negara yang masih bisa mendengar bisikan.

Dan jika sampai hari ini keadilan masih harus menunggu menjadi viral dulu: mungkin pertanyaan yang paling jujur bukanlah kapan keadilan akan datang, melainkan apakah kita masih mau tinggal di rumah yang sudah lupa mengapa ia dibangun?

Footnotes:

ยน Frasa "10 ribu mention di berita, 82 ribu mention di media sosial" merujuk pada data percakapan publik putusan MK awal Oktober 2025. Lihat Drone Emprit, "Ribuan Persen Kenaikan Percakapan Publik Putusan MK," laporan analisis media sosial, 3 Oktober 2025.

ยฒ Frasa "ketika media sosial menjadi jalur terakhir berburu keadilan" dan kisah ibu di Tegal. Lihat Alfin Febrian, "Ketika Medsos Jadi Jalur Terakhir Buru Keadilan, Ibu Korban Penganiayaan di Tegal Menangis 10 Tahun Cari Keadilan," Tribun Jateng, 11 Oktober 2025.

ยณ Istilah "jangan lukai aku" dan konsep wajah sebagai perintah etik. Lihat Emmanuel Levinas, Totality and Infinity: An Essay on Exteriority, terj. Alphonso Lingis (Pittsburgh: Duquesne University Press, 1969), 199.

โด Frasa "manusia menjadi konten". Lihat Shoshana Zuboff, The Age of Surveillance Capitalism (New York: PublicAffairs, 2019), 94-95.

โต Frasa "manusia dimuliakan tanpa syarat". Lihat Al-Qur'an, Al-Isra' :70.

โถ Frasa "keadilan diperintahkan... karena sepi". Lihat Al-Qur'an, An-Nisa' :135 dan Al-Ma'idah :8.

โท Frasa "799 titik api". Lihat data kebakaran hutan dan lahan nasional, Antara News, "KLH Catat 799 Titik Api Karhutla," 20 Oktober 2025.

โธ Frasa "indeks saham turun 5,2 persen". Lihat Bloomberg Technoz, "IHSG Anjlok 5,2% Pekan Lalu, Investor Asing Net Sell," 19 Oktober 2025.

โน Frasa "486 konten yang diturunkan dalam satu malam patroli siber". Lihat Komnas HAM RI, Siaran Pers No. 086/Humas/KH/X/2025 tentang penurunan konten demonstrasi Agustus 2025.

ยนโฐ Pembedaan "menghitung untung rugi" dan "percaya pada suatu nilai". Lihat Max Weber, Economy and Society: An Outline of Interpretive Sociology, ed. Guenther Roth dan Claus Wittich (Berkeley: University of California Press, 1978), 24-26, konsep zweckrational dan wertrational.

ยนยน Frasa "lupa akan makna dari rumah itu sendiri". Lihat Martin Heidegger, Being and Time, terj. John Macquarrie dan Edward Robinson (New York: Harper & Row, 1962), 21-23, tentang Seinsvergessenheit (forgetfulness of Being).

ยนยฒ Frasa "demo mahasiswa pada 20 Oktober di Tugu Tani dan Tugu Proklamasi". Lihat Kompas.com, "Mahasiswa Gelar Aksi di Tugu Tani dan Tugu Proklamasi, 20 Oktober 2025," 20 Oktober 2025.

ยนยณ Frasa "486 konten... kematian seorang warga". Lihat Tempo.co, "Komdigi Akui Take Down 486 Konten Demo Agustus, Termasuk Konten Kematian Affan Kurniawan," 12 Oktober 2025.

ยนโด Frasa "IHSG anjlok hingga ke level 4.914... MSCI... modal asing lebih dari seratus triliun". Lihat CNBC Indonesia, "IHSG Sentuh 4.914, MSCI Ancam Downgrade, Asing Kabur Rp107 Triliun," 19-20 Oktober 2025.

ยนโต Frasa "negara seperti sebuah perjanjian". Lihat John Locke, Second Treatise of Government, ed. C.B. Macpherson (Indianapolis: Hackett, 1980), 52; Thomas Hobbes, Leviathan, ed. Richard Tuck (Cambridge: Cambridge University Press, 1996), 120.

ยนโถ Frasa "keadilan adalah sikap tengah". Lihat Ibn Miskawayh, Tahdhib al-Akhlaq wa Tathir al-A'raq, ed. Constantine Zurayk (Beirut: American University of Beirut, 1966), 101-105.

ยนโท Frasa "kota yang utama... pemimpinnya mencintai keadilan sebagai watak". Lihat Al-Farabi, Al-Madinah al-Fadilah (The Virtuous City), terj. Richard Walzer (Oxford: Clarendon Press, 1985), 235-238.

ยนโธ Frasa "muhtasib... berjalan di pasar... memeriksa timbangan". Lihat Al-Ghazali, Ihya' Ulum al-Din, vol. 2, Kitab al-Hisbah (Beirut: Dar al-Ma'rifah, http://t.th.), 383-387.

ยนโน Kisah "keledai terperosok... Umar bin Khattab". Lihat Ibn al-Jawzi, Sifat al-Safwah (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1989), 1:279, riwayat Umar bin al-Khattab.

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Moslemtoday.com, Klik : WA Grup & Telegram Channel

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!