Sana'a โ Kelompok Houthi di Yaman mengancam akan melancarkan serangan balasan secara cepat dan menimbulkan kerusakan serius jika Amerika Serikat (AS) ikut terlibat dalam operasi militer melawan kelompok tersebut. Ancaman ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi, serta kemungkinan Washington memberikan dukungan militer kepada Riyadh.
Anggota biro politik Houthi, Mohammed Al Bukhaiti, menyampaikan ancaman tersebut dalam wawancara dengan media internasional pada Senin (12/10/2026). Ia menegaskan bahwa kelompoknya tidak akan ragu menyerang AS beserta kepentingannya di kawasan jika Washington memutuskan untuk terlibat langsung dalam konflik di Yaman.
Menurut Al Bukhaiti, serangan balasan itu akan dilakukan dengan cepat dan berpotensi menimbulkan kerusakan serius. Pernyataan tersebut menjadi peringatan terbuka bagi pemerintahan Presiden Donald Trump agar mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan untuk melakukan intervensi militer.
Pejabat Houthi juga memperingatkan para pegawai dan pekerja di fasilitas minyak serta bandara Arab Saudi agar menjauhi lokasi-lokasi tersebut. Kelompok itu menganggap sejumlah fasilitas strategis tersebut sebagai sasaran potensial dalam serangan berikutnya.
Al Bukhaiti menyebut kampanye serangan terhadap target-target di Arab Saudi bertujuan menyampaikan pesan kepada Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Menurutnya, Riyadh tidak dapat terus melancarkan serangan di Yaman tanpa menghadapi konsekuensi.
AS Pertimbangkan Keterlibatan Militer
Ancaman Houthi muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengkritik serangan kelompok tersebut terhadap Arab Saudi. Trump menyebut tindakan Houthi sebagai sesuatu yang โsangat burukโ, tetapi belum memberikan keputusan pasti mengenai kemungkinan keterlibatan langsung militer AS.
Di tengah perkembangan tersebut, Arab Saudi dilaporkan telah meminta bantuan mendesak kepada Washington untuk menghadapi serangan rudal dan pesawat nirawak atau drone yang terus menekan sistem pertahanan negaranya.
CNBC melaporkan bahwa Riyadh menghadapi tantangan dalam mempertahankan wilayahnya dari serangan berulang. Meski demikian, hingga Senin (12/10), Washington belum mengumumkan rencana konkret mengenai kemungkinan intervensi militer.
Inggris juga mempertimbangkan dukungan bagi Arab Saudi. Menteri Pertahanan Inggris Wes Streeting mengatakan London sedang mengkaji sejumlah opsi untuk membantu Riyadh mempertahankan diri.
Namun, Streeting tidak merinci bentuk bantuan yang mungkin diberikan. Ia menegaskan bahwa seluruh pihak perlu mengupayakan penyelesaian diplomatik untuk mengakhiri konflik.
โKami selalu menegaskan bahwa tidak ada solusi militer untuk konflik ini,โ ujarnya.
Serangan Houthi Sasar Fasilitas Strategis Arab Saudi
Ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi meningkat sejak kembali mencuatnya aksi saling tuduh mengenai permusuhan pada Juli 2026. Situasi tersebut memperburuk konflik yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.
Pada 10 Oktober, Houthi dilaporkan melancarkan serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Serangan tersebut disebut menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Otoritas Arab Saudi kemudian dilaporkan menutup bandara itu setidaknya selama sepekan.
Houthi juga mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap Bandara King Fahd di Dammam, fasilitas gas Shugadam, serta kilang minyak Tanajib yang dimiliki perusahaan energi milik negara, Saudi Aramco.
Selain itu, citra satelit komersial yang diambil pada 8 Oktober memperlihatkan sebuah gudang yang diperkuat di Pangkalan Udara Militer Khamis Mushait mengalami kebakaran hingga hancur. Fasilitas tersebut diduga menyimpan sejumlah persenjataan yang diluncurkan dari udara milik Angkatan Udara Arab Saudi.
Pada malam 12 Oktober, sejumlah ledakan keras kembali dilaporkan terdengar di Arab Saudi. Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim pasukannya menggunakan drone untuk menyerang Pangkalan Udara Khamis Mushait di wilayah selatan Arab Saudi, dekat perbatasan Yaman.
Sebagai tanggapan, seorang perwakilan militer Arab Saudi mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara negaranya telah mencegat sebuah rudal yang diluncurkan dari Yaman. Koalisi militer pimpinan Arab Saudi juga mengumumkan keberhasilan mencegat dua rudal balistik lainnya di wilayah selatan negara tersebut.
Sistem Pertahanan Saudi Hadapi Tantangan
Meski memiliki kemampuan militer yang kuat, Arab Saudi menghadapi kesulitan untuk mengantisipasi serangan Houthi yang dilakukan secara berulang dan dengan berbagai jenis persenjataan.
Menurut Thomas Juneau, analis keamanan dari University of Ottawa, luas wilayah Arab Saudi menjadi salah satu faktor yang menyulitkan upaya perlindungan terhadap seluruh kawasan negara itu.
Sementara itu, Andreas Krieg, pakar keamanan dari perusahaan analisis risiko MENA Analytica, menilai bahwa sistem pertahanan udara berlapis sekalipun tidak dapat menjamin perlindungan menyeluruh terhadap wilayah seluas Arab Saudi.
โBahkan sistem pertahanan udara berlapis yang mencakup Patriot, THAAD, jet tempur, dan berbagai sensor tidak dapat menciptakan kubah yang sepenuhnya kedap serangan di atas negara sebesar Arab Saudi,โ kata Krieg, sebagaimana dikutip Times of Israel.
Persoalan lainnya adalah ketersediaan rudal pencegat. Arab Saudi, seperti sejumlah sekutu AS lainnya di Timur Tengah, dilaporkan menghadapi penurunan persediaan amunisi untuk sistem pertahanan Patriot dan THAAD setelah mengalami pengurasan persenjataan dalam konflik dengan Iran.
Kondisi tersebut berpotensi memperumit upaya Riyadh menghadapi serangan beruntun, terutama jika Houthi terus mengombinasikan serangan drone secara simultan dengan peluncuran rudal ke sasaran-sasaran strategis.
Konflik Yaman Kembali Memicu Ketegangan Regional
Yaman terjerumus dalam perang saudara setelah kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014 dan berkonflik dengan pasukan pemerintah yang didukung Arab Saudi. Pada 2015, koalisi militer pimpinan Riyadh melakukan intervensi untuk mendukung pemerintah Yaman, sehingga konflik tersebut berkembang menjadi salah satu krisis kemanusiaan paling parah di dunia.
Meskipun para pihak mencapai kesepakatan gencatan senjata pada 2022, ketegangan kembali meningkat pada 2026. Serangan terhadap bandara, fasilitas energi, dan infrastruktur strategis memperbesar risiko meluasnya konflik ke kawasan yang lebih luas.
Situasi ini juga menimbulkan kekhawatiran terhadap jalur pelayaran internasional, khususnya Selat Bab el-Mandeb, yang menjadi jalur penting perdagangan global.
Ancaman Houthi untuk menyerang AS apabila Washington terlibat langsung menambah kompleksitas situasi. Jika ancaman tersebut berujung pada konfrontasi militer, konflik Yaman berpotensi berkembang menjadi krisis regional yang melibatkan lebih banyak negara.
Di tengah meningkatnya eskalasi, dorongan diplomatik dan upaya mencegah serangan lebih lanjut menjadi semakin penting untuk menghindari konflik yang lebih luas serta dampak kemanusiaan yang semakin besar.
Sumber : https://www.thenews.pk/story/1442718-saudis-intercept-two-missiles-as-houthis-warn-washington-against-intervention