Belakangan beredar konten yang dibuat oleh salah seorang influencer dan pegiat dakwah Muslim sebagai respons terhadap polemik buku Memburu Muhammad. Konten tersebut menampilkan beberapa orang bernama Muhammad yang terlibat dalam kasus kriminal, dengan keterangan seperti โini: Muhammad yang cabulโ atau โini: Muhammad yang korupsiโ.
Jika kita berusaha berbaik sangka, konten tersebut tidak harus dibaca sebagai upaya menjadikan nama Muhammad sebagai bahan lelucon. Bisa jadi, maksudnya sederhana: menunjukkan bahwa Muhammad adalah nama yang digunakan oleh banyak orang, sehingga perilaku buruk seseorang yang bernama Muhammad tidak boleh begitu saja diasosiasikan dengan Nabi Muhammad ๏ทบ.
Maksud tersebut tentu bisa dipahami. Namun, menurut saya, ada persoalan lain yang menarik untuk dibicarakan: apakah penggunaan nama Muhammad dalam konteks tersebut merupakan cara yang paling tepat untuk menunjukkan sikap terhadap orang-orang yang melakukan kejahatan sekaligus menjaga kehormatan Nabi Muhammad ๏ทบ?
Bagi seorang Muslim, โMuhammadโ bukan sekadar rangkaian huruf yang kebetulan digunakan sebagai nama seseorang. Muhammad adalah nama Nabi yang dicintai dan dimuliakan. Karena itu, wajar jika sebagian Muslim memiliki sensitivitas khusus ketika nama tersebut ditempatkan berdampingan dengan sesuatu yang hina, keji, atau memalukan.
Di sini, menurut saya, kita perlu membedakan antara orang yang bernama Muhammad dan nama Muhammad sebagai nama Nabi yang memiliki kedudukan khusus bagi umat Islam.
Ketika seseorang bernama Muhammad melakukan korupsi, misalnya, tentu yang bertanggung jawab adalah orang tersebut. Kita tidak boleh menganggap Nabi Muhammad ๏ทบ memiliki hubungan dengan perbuatannya hanya karena kesamaan nama. Secara logis, kesamaan nama tidak membuktikan kesamaan karakter, apalagi hubungan moral antara dua orang yang berbeda. Namun, apakah karena itu seorang Muslim tidak boleh merasa keberatan ketika nama Muhammad digunakan dalam konteks yang negatif? Saya kira tidak demikian.
Seseorang bisa saja mengakui bahwa Muhammad merupakan nama yang digunakan oleh banyak orang, tetapi pada saat yang sama memilih untuk memperlakukan nama Nabi Muhammad ๏ทบ dengan penghormatan khusus. Kedua hal tersebut tidak bertentangan.
Justru di sinilah kita dapat mempertimbangkan pendekatan lain, yakni menunjukkan sikap baraโ terhadap kemaksiatan tanpa harus menjadikan nama Muhammad sebagai bagian yang menonjol dari keburukan seseorang.
Misalnya, ketika seseorang bernama Muhammad melakukan kejahatan seksual atau korupsi, kita bisa mengatakan:
โSaya enggan menyebut nama Muhammad untuk orang ini dalam konteks seperti ini karena saya tidak ingin nama Nabi Muhammad ๏ทบ diasosiasikan dengan perbuatannya.โ
Sikap tersebut tentu bukan kewajiban yang harus diberlakukan kepada semua orang. Ini merupakan salah satu pilihan sikap yang dapat diambil oleh seorang Muslim yang ingin menunjukkan penghormatan terhadap Nabi Muhammad ๏ทบ.
Yang perlu diperhatikan, sikap semacam ini tidak berarti membenci semua orang yang bernama Muhammad. Tidak pula berarti menganggap seseorang menjadi buruk hanya karena namanya Muhammad. Sebaliknya, sikap tersebut justru berangkat dari keinginan untuk memisahkan perilaku individu dari sosok Nabi yang dimuliakan.
Dengan demikian, ada tiga hal yang perlu dibedakan.
Pertama, orang yang bernama Muhammad. Ia merupakan individu yang harus dinilai berdasarkan perbuatan dan tanggung jawabnya sendiri.
Kedua, nama Muhammad sebagai nama yang digunakan oleh banyak manusia. Nama tersebut tidak dengan sendirinya menjadikan seseorang baik atau buruk.
Ketiga, nama Muhammad sebagai nama Nabi Muhammad ๏ทบ, yang memiliki kedudukan istimewa dalam kehidupan keagamaan umat Islam.
Pembedaan ini penting agar penghormatan kepada Nabi tidak berubah menjadi generalisasi terhadap semua orang yang memiliki nama yang sama. Sebaliknya, fakta bahwa nama Muhammad digunakan oleh banyak orang juga tidak harus membuat kita mengabaikan makna simboliknya bagi umat Islam.
Lantas, bagaimana kita sebaiknya menyikapi konten yang menampilkan orang-orang bernama Muhammad dalam konteks kejahatan?
Menurut saya, kita tidak perlu terburu-buru menuduh pembuatnya memiliki niat buruk. Bisa jadi, tujuan konten tersebut memang untuk menegaskan bahwa nama seseorang tidak menentukan karakter atau perilakunya. Pesan itu sendiri dapat diterima. Namun, kita tetap dapat mempertanyakan pilihan cara untuk menyampaikan pesan tersebut. Tujuan yang dapat dipahami tidak berarti setiap cara untuk mencapainya otomatis menjadi pilihan yang paling tepat.
Jika tujuannya adalah menunjukkan bahwa orang bernama Muhammad yang melakukan kejahatan tidak mewakili Nabi Muhammad ๏ทบ, pesan itu sebenarnya dapat disampaikan secara langsung: orang tersebut memang bernama Muhammad, tetapi perbuatannya merupakan tanggung jawabnya sendiri dan tidak dapat dijadikan dasar untuk menilai Nabi. Bahkan, seseorang dapat mengatakan, โPerilakunya tidak mencerminkan akhlak Nabi Muhammad ๏ทบ,โ tanpa harus menjadikan nama Muhammad sebagai unsur yang paling ditonjolkan dalam penyajian kasus tersebut.
Pendekatan ini memungkinkan kita mempertahankan dua prinsip sekaligus: keadilan dalam menilai individu dan penghormatan terhadap Nabi.
Pada titik ini, persoalannya bukan apakah setiap orang bernama Muhammad harus diperlakukan istimewa. Bukan pula apakah setiap penyebutan nama Muhammad dalam konteks negatif otomatis merupakan penghinaan terhadap Nabi. Kesimpulan semacam itu terlalu jauh jika tidak mempertimbangkan konteks, maksud, dan cara penyampaiannya.
Persoalannya adalah bagaimana kita menyeimbangkan dua hal: mengakui bahwa Muhammad merupakan nama yang digunakan oleh banyak orang, sekaligus memahami bahwa nama tersebut memiliki kedudukan khusus bagi umat Islam karena merupakan nama Nabi yang mereka cintai.
Kita bisa mengecam korupsi tanpa harus mengaburkan perbedaan antara pelaku kejahatan dan Nabi Muhammad ๏ทบ. Kita bisa menentang kekerasan seksual tanpa menggeneralisasi semua orang yang bernama Muhammad. Dan kita juga bisa mengkritik suatu cara penyampaian tanpa harus berprasangka buruk terhadap orang yang menggunakannya.
Pada akhirnya, memuliakan Nabi tidak harus diwujudkan dengan memperlakukan setiap orang yang bernama Muhammad secara istimewa. Namun, bagi seorang Muslim, memuliakan Nabi juga dapat menjadi alasan untuk lebih berhati-hati dalam memperlakukan nama beliau.
Kita tidak harus mencurigai niat seseorang untuk mengkritik caranya. Kita juga tidak harus mengabaikan makna sebuah nama hanya karena nama itu digunakan oleh banyak orang.
Barangkali, di situlah sikap yang lebih proporsional dapat ditemukan: adil dalam menilai manusia, jernih dalam membedakan identitas dan simbol, serta tetap menjaga penghormatan kepada Nabi Muhammad ๏ทบ tanpa kehilangan kejernihan berpikir.
