TIANG -TIANG kayu mulai dirakit di atas bekas rumah yang telah luluh akibat gempa dan lahan milik warga. Di tempat itu, perlahan mulai tumbuh harapan baru.
Para relawan Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) sedang memulai pembangunan tiga unit hunian sementara (huntara) bagi keluarga penyintas gempa di Dusun Waso, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di balik pembangunan itu terdapat kepedulian dari Jamaโah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Jawa Barat, Ikatan Guru Raudhatul Athfal (IGRA), Ikatan Guru Taman Al Qurโan (IGTA), PAUDQU dan TPA Alghinaya Bogor, serta warga Kelurahan Rawa Badak Selatan, Koja, Jakarta Utara.
โAlhamdulillah pembangunan huntara sudah dimulai sejak dua hari lalu dengan perakitan tiang-tiang di bekas rumah salah seorang warga terdampak bencana, Pak Jafar. Sekarang sudah berdiri dua dinding,โ kata Ketua UAR Korwil NTT sekaligus Koordinator Lapangan Tim UAR NTT, Daud Masang, Rabu (16/9/2026).
Ketika Reruntuhan Masih Bisa Berarti
Di lokasi bencana, tidak semua yang tersisa dari sebuah rumah harus dibuang. Sebagian material bangunan yang masih dapat digunakan kembali dimanfaatkan untuk pembangunan huntara. Cara tersebut sekaligus menjadi solusi di tengah kondisi material bangunan yang langka dan harganya cukup tinggi.
โPembangunan huntara sebagian menggunakan material bekas reruntuhan rumah warga yang masih bisa dipakai, sehingga bisa menghemat belanja material bangunan yang saat ini sedang langka dan cukup mahal akibat infrastruktur rusak digoncang gempa,โ ujar Daud.
Bagi relawan, pemanfaatan material bekas bukan semata persoalan menghemat biaya. Di balik material yang tersisa itu terdapat bagian dari rumah lama yang pernah menjadi tempat keluarga menjalani kehidupan sehari-hari.
Kini, material tersebut mendapatkan fungsi baru: menjadi bagian dari tempat tinggal sementara bagi penyintas yang sedang berusaha menata kembali kehidupannya.
Setiap huntara dibangun berukuran 4 x 6 meter dan dirancang untuk ditempati satu keluarga. Ukurannya memang sederhana. Namun bagi keluarga yang saat ini tidak lagi memiliki rumah yang aman, sebuah ruang untuk tidur, berlindung dari hujan, memasak, dan berkumpul bersama keluarga memiliki arti yang jauh lebih besar.
Dari Jarak Jauh, Kepedulian Itu Sampai ke Waso
Para donatur yang membantu pembangunan huntara berada jauh dari Dusun Waso. Namun jarak tidak menghalangi kepedulian. Dari Jawa Barat hingga Jakarta Utara, bantuan dihimpun dan kemudian disalurkan kepada masyarakat yang terdampak bencana di Flores. Di lapangan, para relawan UAR menjadi penghubung antara kepedulian para donatur dan kebutuhan warga.
Apa yang dikirim bukan hanya material atau dana. Ada pesan yang ikut sampai ke Dusun Waso: bahwa para penyintas tidak menghadapi masa sulit ini sendirian.
Ketua Umum Ukhuwah Al-Fatah Rescue H. Endang Sudrajat mengatakan pembangunan huntara merupakan bagian dari ikhtiar UAR untuk terus membersamai masyarakat Dusun Waso melewati masa darurat menuju pemulihan.
โHuntara ini insya Allah menjadi tempat yang aman dan layak. Tempat anak-anak bisa tidur nyenyak, ibu-ibu bisa memasak dengan tenang, bapak-bapak bisa kembali bekerja tanpa khawatir keluarganya kehujanan,โ ujar Endang.
Ia menyebut huntara sebagai jembatan bagi para penyintas untuk beranjak dari kondisi darurat menuju kehidupan yang lebih aman. โJembatan dari air mata menuju senyum kembali,โ katanya.
Rumah Sementara, Harapan yang Tidak Sementara
Pembangunan huntara mungkin dimulai dari tiang-tiang yang dirakit, material yang diselamatkan dari reruntuhan, dan bantuan yang dikumpulkan para donatur.
Namun cerita di baliknya jauh lebih besar. Ada keluarga yang sedang mencoba bangkit. Ada masyarakat yang membuka pintu bagi para relawan. Ada donatur yang menyisihkan sebagian kepeduliannya. Dan ada relawan yang membawa semua itu hingga sampai ke lokasi bencana.
Bagi warga Dusun Waso, huntara tersebut kelak bukan sekadar bangunan berukuran 4 x 6 meter. Di sanalah sebuah keluarga dapat kembali memiliki ruang untuk beristirahat, memasak, berbincang, dan perlahan menyusun kembali kehidupan yang sempat porak-poranda. Sebuah rumah sementara, tetapi harapan yang ingin dibangun di dalamnya tidak sementara.
