Paradox Pembangkangan Netanyahu vs Trump
Oleh: Ahmad Dumyathi Bashori
Dosen Senior Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UIN Syarif Hidayatullah-Jakarta
Penggiat Forum for Strategic and Future Studies (FSFS)-Depok
Lanskap Timur Tengah kembali dihadapkan pada kebuntuan taktis yang akut. Meskipun kesepakatan de-eskalasi regional yang diarsiteki oleh poros Washington-Teheran telah merumuskan cetak biru perdamaianโtermasuk klausul penarikan mundur pasukan asing dari LebanonโIsrael secara sepihak memilih untuk bertahan di wilayah Lebanon Selatan.
Tindakan menolak mundur ini memicu pertanyaan krusial: bagaimana mungkin sebuah negara yang secara finansial dan militer bergantung pada Amerika Serikat, berani menentang arsitektur perdamaian yang didukung oleh Gedung Putih? Mengapa Benjamin Netanyahu berani "membangkang" kepada Donald Trump, seorang presiden AS yang secara historis terbukti paling loyal terhadap kepentingan Tel Aviv?
Doktrin Strategic Depth dan "Greater Israel"
Penolakan Israel untuk mundur dari Lebanon Selatan tidak bisa dibaca sekadar sebagai langkah pertahanan taktis jangka pendek. Ini adalah manifestasi dari doktrin militer lawas yang berkelindan dengan ideologi ekspansionis sayap kanan.
Pertama, Patahan Zona Penyangga (Buffer Zone): Israel secara historis memandang wilayah Lebanon Selatan hingga Sungai Litani sebagai halaman belakang yang harus dikuasai untuk menciptakan kedalaman strategis (strategic depth). Mundur dari wilayah tersebut, dalam kalkulasi militer Israel, sama saja dengan menyerahkan kembali ruang geopolitik kepada Hizbullah untuk menata ulang persenjataannya.
Kedua, Visi Eretz Yisrael (Israel Raya): Di bawah pemerintahan koalisi paling kanan dalam sejarah Israel, elemen-elemen ultra-nasionalis di kabinet Netanyahu tidak lagi menyembunyikan agenda ekspansif mereka. Pendudukan wilayah bukan lagi sekadar instrumen keamanan, melainkan tujuan teritorial. Penahanan pasukan di Lebanon Selatan dipandang oleh faksi garis keras sebagai fondasi untuk menciptakan kendali permanen atas sumber daya air (seperti Sungai Litani) dan mengubah demografi perbatasan secara sepihak.
Mengapa Netanyahu Berani?
Paradoks terbesar hari ini adalah keberanian Netanyahu menentang Donald Trump. Padahal, Trump adalah presiden AS yang mencatatkan rekor loyalisme paling ekstrem terhadap Israel melalui serangkaian kebijakan historis kelamnya : Pertama, pemindahan Kedutaan Besar AS yang mengakui Yerusalem secara sepihak sebagai ibukota abadi Israel. Kedua, pengakuan kedaulatan Dataran Tinggi Golan. Sebuah legitimasi pencaplokan wilayah-wilayah Suriah secara hukum domestic Amerika. Ketiga, pembatalan Perjanjian Nuklir Iran (JCPOA) di mana Amerika keluar dari pakta nuklir demi menuruti desakan keamanan Tel Aviv. Keempat, sanksi Ekonomi Maksimum & Eliminasi Proksi. Amerika menjatuhkan sanksi melumpuhkan terhadap Teheran dan melakukan likuidasi terhadap figure militer top Iran.
Dengan rekam jejak "utang budi" sebesar itu, apa yang membuat Netanyahu begitu berani bertaruh melawan Trump?
Kartu Truf Lobi Zionis
Netanyahu sangat memahami arsitektur politik domestik Amerika Serikat. Loyalitas Trump kepada Israel bukan terjadi dalam ruang hampa, melainkan didorong oleh basis pemilih fundamentalis Kristen Evangelis dan donor-donor raksasa zionis melalui AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) di tubuh Partai Republik. Netanyahu tahu bahwa Trumpโsekuat apa pun kepribadiannyaโtidak akan berani mengambil tindakan ekstrem seperti menghentikan total pasokan senjata atau bantuan finansial ke Israel, karena hal itu akan menjadi bunuh diri politik bagi popularitas Partai Republik di dalam negeri Amerika.
Bagi Netanyahu, kepatuhan pada AS berarti kematian politik di dalam negeri. Jika dia mundur dari Lebanon berdasarkan kesepakatan AS-Iran, koalisi pemerintahan sayap kanannya akan runtuh seketika. Partai-partai ultra-ortodoks dan nasionalis radikal akan menarik dukungan, memaksa pemilu dipercepat, dan menghadapkan Netanyahu kembali pada dakwaan kasus korupsi yang mengancamnya dengan hukuman penjara.
Netanyahu sedang melakukan tindakan eksternalisasi krisis. Dia rela merusak hubungan diplomatik dengan Washington dan mengorbankan stabilitas regional demi memperpanjang napas kekuasaan politik pribadinya di Tel Aviv.
Menolak Narasi AS-Iran dan "Hidden Vetos"
Israel menolak tunduk pada kesepakatan Amerika-Iran karena mereka memandang pakta tersebut cacat sejak dalam kandungan (fatally flawed). Dari sudut pandang strategis Israel ada dua hal fundamental dalam point-view mereka yaitu : Pertama, Ketidakpercayaan pada Komitmen Iran: Israel meyakini bahwa kesepakatan de-eskalasi Teheran hanyalah taktik Taqiyyah (kemunafikan) diplomatik untuk mengulur waktu guna memulihkan ekonomi Iran dari sanksi, sementara program pengayaan uranium rahasia mereka tetap berjalan. Kedua, Ketidakberdayaan Tentara Lebanon & UNIFIL: Klausul yang menyerahkan keamanan Lebanon Selatan kepada tentara reguler Lebanon atau pasukan perdamaian PBB (UNIFIL) dianggap lelucon oleh Tel Aviv. Sejarah membuktikan bahwa baik UNIFIL maupun militer Lebanon tidak pernah mampu meredam pengaruh militer Hizbullah.
Oleh karena itu, Israel menerapkan kebijakan fait accompli (menciptakan fakta baru di lapangan). Mereka sengaja bertahan di Lebanon untuk memaksa Amerika Serikat mendesain ulang klausul perjanjian, memastikan bahwa apa pun kesepakatan akhir yang tercapai, hak Israel untuk melakukan intervensi militer ofensif di Lebanon tetap dijamin.
Perjudian Jangka Panjang
Keberanian Netanyahu menantang Trump adalah sebuah perjudian geopolitik dengan risiko tertinggi. Israel bertaruh bahwa AS akan selalu "terpaksa" membela mereka karena ikatan historis dan domestic โlobi Zionisโ. Namun, strategi ini mengabaikan satu hal: pergeseran persepsi publik global dan kelelahan perang (war fatigue) yang mulai melanda masyarakat domestik Amerika Serikat sendiri.
Dengan menolak mundur dan memilih jalur ekspansi teritorial, Israel tidak sedang membangun keamanan sejati. Sebaliknya, mereka sedang memperdalam isolasi internasional, menguras persediaan amunisi yang bergantung pada bantuan asing, dan menjebak diri mereka sendiri dalam perang atrisi multi-front tak berujung yang secara perlahan akan meruntuhkan ketahanan ekonomi dan sosial domestik mereka dari dalam. Wallhu aโlam!
