Opini

Di Balik Damai "Tertunda" Amerika–Iran

Logo

Posted by: Ahmad Dumyathi Bashori

20 June 2026 19:40 WIB • 431 view

Di Balik Damai "Tertunda" Amerika–Iran
Foto: Istimewa

Di Balik Damai ‘Tertunda’ Amerika–Iran 

Oleh: Ahmad Dumyathi Bashori

Dosen Senior Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), UIN-Jakarta

Penggiat Forum for Strategic and Future Studies (FSFS)-Depok


Perundingan Amerika-Iran yang mestinya diadakan di Swiss Jum’at (19 Juni 2026) kemarin batal dilaksanakan. Hal ini terjadi dikarenakan Iran menunda keberangkatan delegasinya yang dikepalai oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf yang dijadwalkan bertemu dengan Wakil Presiden Amerika JD Vance. Hal ini terjadi karena oleh ketegangan militer di Libanon Selatan berkecamuk padahal penghentian operasi militer segera dan permanen di semua front termasuk Libanon menjadi syarat yang ‘didiktekan’ Iran kepada Amerika dan diterima. 


Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian menandatangani nota kesepahaman (14 Juni dan 17 Juni 2026) yang membuka jalan bagi perundingan damai selama 60 hari, perhatian dunia langsung tertuju pada berakhirnya ketegangan yang selama lebih dari tiga bulan mengguncang kawasan Timur Tengah. Namun, di balik euforia diplomasi tersebut, terdapat dua cerita besar yang berjalan beriringan: kekecewaan mendalam Israel dan tekanan ekonomi yang mendorong Washington untuk mengakhiri konfrontasi dengan Teheran.


Bagi Israel, kesepakatan ini bukan sekadar langkah diplomatik, melainkan perubahan strategis yang berpotensi mengurangi ruang geraknya dalam menghadapi Iran dan kelompok-kelompok sekutunya. Tidak mengherankan jika media dan kalangan politik yang dekat dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menuduh pemerintahan Trump telah memberikan konsesi berlebihan kepada Teheran. Beberapa bahkan menggunakan istilah yang keras, menyebut bahwa Washington telah "menjual Israel" demi mencapai kesepakatan dengan Iran. Dan kecamuk perang di Libanon Selatan yang akhirnya membatalkan perundingan di Swiss di atas ditengarai sebagai bentuk kemarahan Israel kepada sekutu terdekat dan terkuatnya yaitu Amerika.


Kekecewaan Tel Aviv dapat dipahami jika melihat substansi kesepahaman yang beredar. Kesepakatan tersebut membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, mengurangi blokade terhadap Iran, memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari, serta membuka jalan menuju pelonggaran sanksi ekonomi jika negosiasi berjalan sesuai rencana. Di saat yang sama, isu paling sensitif bagi Israel—yakni program rudal balistik Iran dan pengaruh regional Teheran melalui Hizbullah dan kelompok-kelompok sekutunya—tidak menjadi syarat utama dalam tahap awal kesepakatan.


Lebih jauh lagi, sumber-sumber Israel mengungkapkan bahwa Washington mendorong penarikan pasukan Israel dari sejumlah titik di Lebanon Selatan dan kawasan Gunung Hermon di Suriah demi menjaga momentum diplomatik dengan Iran. Bagi Netanyahu, tuntutan tersebut berarti mengorbankan apa yang dianggap sebagai pencapaian keamanan Israel di front utara.


Namun membaca kesepakatan ini semata-mata dari sudut pandang keamanan Israel akan membuat kita kehilangan gambaran yang lebih besar. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa Trump memilih berdamai sekarang? Jawabannya terletak pada ekonomi.


Di balik bahasa diplomasi dan stabilitas kawasan, terdapat kepentingan ekonomi global yang terlalu besar untuk diabaikan Washington. Selama konflik berlangsung, Selat Hormuz—jalur yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia dan sebagian besar ekspor energi negara-negara Teluk—mengalami gangguan serius. Penutupan dan pembatasan pelayaran di kawasan tersebut tidak hanya mengganggu rantai pasok energi global, tetapi juga memicu lonjakan biaya logistik dan ketidakpastian pasar internasional.


Kesepakatan yang ditandatangani Washington dan Teheran secara khusus mewajibkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari, pencabutan blokade laut Amerika terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, serta pemberian keringanan terhadap sebagian sanksi minyak Iran. Selain itu, Amerika Serikat dilaporkan menyetujui pelepasan sekitar US$25 miliar aset Iran yang selama ini dibekukan dan berkomitmen untuk tidak menjatuhkan sanksi baru selama proses negosiasi berlangsung.


Reaksi pasar menunjukkan betapa besarnya dimensi ekonomi dari kesepakatan tersebut. Segera setelah nota kesepahaman diumumkan, harga minyak dunia turun tajam. Minyak Brent merosot ke kisaran US$78 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun ke sekitar US$75 per barel, level terendah sejak pecahnya konflik. Investor memperkirakan pembukaan kembali Selat Hormuz akan mengembalikan puluhan juta barel minyak yang selama konflik tertahan di kawasan Teluk ke pasar global. Reuters bahkan melaporkan adanya sekitar 54 supertanker yang membawa hampir 87 juta barel minyak yang menunggu normalisasi jalur pelayaran tersebut.


Bagi Donald Trump, angka-angka tersebut jauh lebih penting daripada sekadar kemenangan simbolik di medan geopolitik. Stabilitas harga energi berarti menurunnya tekanan inflasi, berkurangnya biaya transportasi, dan membaiknya sentimen konsumen Amerika. Sebaliknya, perang berkepanjangan dengan Iran berisiko mendorong harga minyak kembali ke level tinggi yang dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat. Karena itu, kesepakatan dengan Teheran sesungguhnya merupakan langkah pragmatis untuk mengamankan kepentingan ekonomi domestik sekaligus menenangkan pasar energi global.


Dari sudut pandang yang lebih luas, perdamaian ini juga membuka peluang kembalinya ekspor minyak Iran ke pasar internasional. Dengan potensi tambahan pasokan ratusan ribu hingga jutaan barel per hari dalam beberapa bulan mendatang, pasar energi global memperoleh ruang bernapas yang sangat dibutuhkan setelah berbulan-bulan dilanda ketidakpastian. Inilah sebabnya mengapa Washington tampak lebih memilih kompromi yang tidak sempurna daripada mempertahankan konfrontasi yang mahal dan berisiko bagi ekonomi dunia.


Perang berkepanjangan dengan Iran telah menimbulkan biaya yang tidak kecil bagi Amerika Serikat dan perekonomian global. Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia, sempat mengalami gangguan serius selama konflik berlangsung. Ketidakpastian di kawasan tersebut mendorong kenaikan biaya logistik, mengganggu rantai pasok global, dan menimbulkan tekanan terhadap harga energi internasional. Bahkan setelah gencatan senjata tercapai, berbagai sektor industri masih merasakan dampak gangguan pasokan yang terjadi selama konflik berlangsung.


Bagi Trump, yang selalu menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai ukuran utama keberhasilan politiknya, stabilitas pasar energi jauh lebih penting dibandingkan melanjutkan perang tanpa akhir. Pembukaan kembali Selat Hormuz dan normalisasi ekspor minyak Iran berpotensi meningkatkan pasokan energi global, menekan harga minyak, dan meredakan tekanan inflasi internasional.


Faktor ekonomi domestik Amerika juga tidak bisa diabaikan. Setiap lonjakan harga energi akan segera berdampak pada biaya transportasi, harga barang, dan sentimen konsumen Amerika. Dalam konteks politik, inflasi yang tinggi selalu menjadi ancaman bagi popularitas presiden mana pun. Karena itu, kesepakatan dengan Iran bukan hanya langkah diplomatik, melainkan juga instrumen untuk menjaga stabilitas ekonomi.


Selain itu, Washington tampaknya mulai menyadari keterbatasan strategi tekanan maksimum terhadap Iran. Setelah lebih dari satu dekade sanksi, Iran memang mengalami tekanan ekonomi berat, tetapi negara tersebut tidak runtuh. Sebaliknya, Teheran tetap mampu mempertahankan jaringan pengaruh regionalnya dan menunjukkan kapasitas untuk mengganggu salah satu jalur energi paling penting di dunia. Dalam perspektif realistis, kesepakatan ini merupakan pengakuan tidak langsung bahwa tidak ada pihak yang mampu memaksakan kemenangan mutlak. Kedua belah pihak akhirnya memilih bernegosiasi karena biaya konfrontasi terus meningkat.


Di sinilah letak paradoksnya. Apa yang dipandang Israel sebagai konsesi berbahaya justru dipandang Washington sebagai kebutuhan strategis. Israel menginginkan pembatasan menyeluruh terhadap kemampuan militer Iran dan kelompok-kelompok sekutunya. Amerika Serikat, sebaliknya, lebih fokus pada pencegahan senjata nuklir, stabilitas kawasan, dan kelancaran arus perdagangan global. Perbedaan prioritas inilah yang menjelaskan mengapa hubungan Trump dan Netanyahu memasuki salah satu fase paling tegang dalam beberapa tahun terakhir.


Pada akhirnya, damai Amerika–Iran bukanlah hasil kemenangan satu pihak atas pihak lain. Ia lebih merupakan kompromi yang lahir dari perhitungan biaya dan manfaat. Bagi Iran, kesepakatan ini membuka peluang pemulihan ekonomi dan pengurangan isolasi internasional. Bagi Trump, kesepakatan ini menawarkan stabilitas energi, meredakan ketegangan regional, dan menghadirkan pencapaian diplomatik yang dapat dijual kepada publik Amerika. Sementara bagi Israel, kesepakatan tersebut justru menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan strategi keamanannya.


Karena itu, di balik narasi perdamaian yang dirayakan banyak pihak, sesungguhnya tersimpan pertarungan kepentingan yang belum berakhir. Enam puluh hari negosiasi ke depan akan menentukan apakah kesepakatan ini benar-benar menjadi jalan menuju stabilitas kawasan atau hanya jeda sementara sebelum babak ketegangan berikutnya dimulai. Wallahu a’lam!

Mari bergabung bersama WA Grup dan Channel Telegram Moslemtoday.com, Klik : WA Grup & Telegram Channel

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!